Pertemuan Jokowi dan Anies dalam rangka kunjungan persiapan sirkuit Formula E, adalah suatu sinyal bahwa Jokowi memberikan dukungan sepenuhnya terhadap program Formula E.
Meskipun program formula E menuai banyak kritik karena masalah, sampai KPK melakukan pemeriksaan dalam kasus Formula E.
Ada dua strategi sekaligus yang dimainkan Jokowi dalam pertemuan dengan Anies.
Strategi pertama,
Semenjak kasus kelangkaan minyak goreng, kenaikan BBM, serta usul presiden 3 periode menciptakan hubungan partai pendukung dengan jokowi semakin tidak harmonis.
Untuk memperkuat posisi jokowi harus mencari infus dukungan ataupun sebuah strategi agar memiliki posisi tawar terhadap sikap partai pendukung, jalan satu-satunya jokowi harus membangun komunikasi terhadap anies, sebagai bentuk preasure terhadap partai pendukung.
Kenapa jokowi harus memilih Anies, sementara masih ada Ganjar dan Ridwan Kamil? Karena partai pendukung jokowi sangat berseberangan saat ini dengan Anies, hanya itu cara untuk melemahkan partai pendukung
Strategi kedua,
Pertemuan jokowi dengan anies dapat juga untuk melemahkan posisi anies yang saat ini berambisi jadi presiden, agar pendukung anies beranggapan bahwa jokowi telah mendukung anies maju sebagai calon presiden tahun 2024, pertemuan dilakukan untuk meninabobokan pendukung anies, serta membangkitkan amarah partai pendukung jokowi.
Namun diatas segalanya itu, tugas utama jokowi, anies dan partai menjadi terabaikan dengan terciptanya kegaduhan politik, akhirnya penderitaan rakyat semakin berkepanjangan. Dan semakin jauhlah harapan rakyat untuk menggapai cita-citanya, akibat kegaduhan politik yang berimbas terhadap rakyat itu sendiri. Korban dari permainan politik adalah rakyat karena dukung-mendukung.
Agar rakyat selamat dari politik sebaiknya tidak memberikan dukungan terhadap siapapun ketika terjadi kegaduhan politik dan bila perlu tidak menyerahkan hak konstitusionalnya sampai kegaduhan politik selesai, sebab rakyat harus sadar betul bahwa hak konstitusional yang dimilikilah yang melahirkan pemerintah, negara dan partai.
Sudah saatnya rakyat memberikan pembelajaran terhadap pemerintah, negara dan partai melalui hak konstitusionalnya, agar tidak menjadi korban kekuasaan dan kegaduhan politik terus-menerus. Artinya rakyat yang memiliki hak konstitusional menjadi budak tetapi kapitalis yang menikmati hasilnya.
Penulis
Tom Pasaribu





















