Sayang bangat Rektor dan petinggi UGM melakukan konferensi pers tentang isu ijazah palsu Joko Widodo yang tidak sekaligus menunjukkan bukti-bukti nyata kepada publik.
Perbedaan penulisan serta format yang dijadikan UGM justru semakin memperkeruh suasana. Sepengetahuan saya format ijazah tidak pernah berbeda-beda dalam satu angkatan.
Jujur saya katakan, akibat rasa penasaran atas pernyataan Rektor UGM, yang tidak sesuai, akhirnya saya mencoba melakukan pencarian dan penelusuran melalui google, saya menemukan CV Joko Widodo pada saat pencalonan Presiden tahun 2014 model BB-4 PPWP, yang ditanda tangani diatas materai.
Dalam CV tersebut kolom riwayat pendidikan SD III, SMPN I, SMAN 6, tahun masuk dan tahun keluar kosong, Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta 1985. pengalaman pekerjaan, organisasi dan penghargaan terisi dengan baik.
Kemudian saya mencari CV melalui situs KPU, namun saya tidak menemukan CV Jokowo Widodo pada saat Capres 2019, tetapi saya menemukan CV Prabowo Subianto dan Ma’ruf Amin, yang mana pada CV tersebut SD, SMP, SMA, hingga Strata 1 tahunnya tertera.
Sayapun penasaran kenapa CV Jokowi hilang dari laman KPU, apakah pegawai atau komisioner KPU salah pencet.
Kasus ijazah ini bukan persoalan kecil, karena akan berdampak kemana-mana. Sebagai pemilih Jokowi saya merasa hal ini menjadi tanggung jawab saya untuk mendorong pembuktian ijazah Jokowi Palsu atau tidak.
Dan secara jujur saya berharap itu tidak palsu, sebab bila ijazah Jokowi benar-benar palsu, maka saya salah satu paling bodoh dari jutaan pemilih Jokowi, dan saya harus menanggung malu atas ejekan teman dan sahabat saya dari masyarakat internasional.
Harapan saya kiranya Alumnus Stambuk 81 sampai 85 UGM bersedia membagikan foto ijazahnya melalui medsos pribadi ataupun medsos anaknya.
Tom Pasaribu S.H, M.H





















