Polisi Harus Menangkap Jokowi, Kasus Pemberitaan Hoaks
Ketika Walikota Solo Jokowi memamerkan mobil Esemka sebagai bahan kampanye saat digadang-gadang menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Setelah terpilih jadi Gubernur DKI Jakarta selama menjabat 2 tahun kurang lebih mobil Esemka tidak pernah dibahas oleh Jokowi.
Namun ketika Jokowi kampanye calon Presiden Jokowi kembali menyebarkan berita hoaks tentang mobil Esemka sebagai alat kampanye, dimana kala diwawancarai disalah satu Media TV Swasta, Jokowi mengatakan bahwa mobil Esemka telah banyak yang pesan, hasil produksi esemka pertahun sebanyak 6000 unit, bahkan Jokowi mengakatakan kepada pembawa acara kalau mau memesan mobil esemka harus bersedia menunggu 3 Tahun, vidio wawancara tersebut telah dihapus dari Youtube, tetapi masih beredar di medsos.
Apakah sebagai hadiah atau upaya tutup mulut orang yang mewawancarai Jokowi saat itu, kini telah mendapat jabatan di pemerintahan sebagai Duta.
Namun sampai saat ini mobil Esemka yang dijanjikan Jokowi meski sudah 8 Tahun menjabat Presiden belum kelihatan wujudnya.
Berita Hoaks yang disebarkan Jokowi tentang mobil Esemka sudah sebaiknya ditangani kepolisian, untuk meminta pertanggungjawaban Jokowi.
Disisi lain DPR sebagai lembaga kontrol pemerintah harus lebih serius menangani berita hoaks yang diumbar-umbar Jokowi mengenai mobil Esemka selama 10 Tahun, DPR jangan diam dan pura-pura pikun tentang berita hoaks mobil Esemka yang dilakukan Presiden, sebab hal tersebut menyangkut intregitas negara indonesia di dunia internasional. Sampai saat ini DPR tidak pernah menanyakan keberadaan mobil Esemka Jokowi.
Atas kasus berita hoaks mobil Esemka, DPR harus segera mengambil sikap dan keputusan terhadap Jokowi, terkecuali DPR sudah memiliki deal-deal dengan Jokowi.
Saya sudah mencoba mencari imformasi keberadaan mobil Esemka melalui PT Solo Manufaktur Kreasi, ternyata situsnya sudah tidak aktif, saya mencoba melalui salah satu showroom PT SMK Sabar Boedhi dengan nomor kontak 0271-7851400, yang dimuat tempo pada tanggal 28 Agustus 2020, sebelum tulisan ini saya muat, tapi tidak satupun yang dapat dihubingi.
Tom Pasaribu, S.H, M.H.





















